CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS �

Solution Of Life

Tampilkan postingan dengan label ACEH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ACEH. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

Mantan Kombatan Serahkan Senjata AK-56


BIREUEN – Gelisah menyimpan lama senjata tanpa hak, akhirnya seorang mantan kombatan GAM menyerahkan sepucuk senjata jenis AK-56 bersama 33 butir peluru kaliber 7,62 mm kepada polisi. Paket istimewa itu diterima Kapolres Bireuen, AKBP T Saladin SH, dua pekan lalu, namun info tersebut baru dibocorkan Saladin kepada wartawan, Minggu (17/5) kemarin.

Kapolres T Saladin dalam pertemuan dengan belasan wartawan kemarin mengatakan senjata itu dia terima di rumah dinasnya hampir dua pekan lalu (Kamis, 7/5). Namun karena perlu penggalian informasi tentang latar belakang senjata yang diserahkan itu, di samping komitmen untuk menjaga identitas orang yang menyerahkan senjata, maka hal itu agak terlambat diekspose.

“Apalagi permintaan orang yang menyerahkan itu agar identitasnya benar-benar dirahasiakan,” ujar Kapolres didampingi Wakapolres Kompol Armaini SIK, Kasat Intelkam AKP Sulaiman, dan Kasat Rerkrim AKP Trisna Safari. Menurut Kapolres, senjata yang tak kelihatan lagi nomor serinya itu diserahkan si pemilik, tak terlepas dari keinginan yang bersangkutan agar perdamaian Aceh terus berlanjut dan dijaga bersama.

Dikisahkan, pemilik senjata itu awalnya menghubungi Kapolres Bireuen untuk menyampaikan niatnya menyerahkan bedil dan peluru aktif yang selama ia dia simpan rapi. Karena waktu itu Teuku Saladin sedang di luar kantor, maka diatur waktu penyerahan pada jam berikutnya. Mantan kombatan itu pun menghubungi Wakapolres Bireuen, Kompol Armaini S. Kemudian dia lakukan komunikasi dengan Kasat Intelkam Polres Bireuen, AKP Sulaiman.

Setelah dipastikan identitasnya akan dirahasikan polisi, maka mantan kombatan (petempur) itu pun meminta Kasat Intelkam menjemputnya di suatu tempat yang berjarak sekitar 1 kilometer (km) dari Kota Bireuen. “Malam itu juga sekitar pukul 21.00 WIB, Kamis (7/5), orang tersebut bersama senjata yang hendak dia serahkan dibawa ke rumah dinas Kapolres Bireuen. Disaksikan beberapa orang, senjata tersebut akhirnya diserahkan kepada Pak Kapolres,” tambah Kasat Intelkam Polres Bireuen.

Awalnya ragu
Menjawab wartawan mengapa senjata itu tidak diserahkan saat penyerahan massal tahun 2005 selagi masih ada Aceh Monitoring Mission (AMM), Kapolres T Saladin mengatakan, waktu itu yang bersangkutan sebenarnya ingin menyerahkan, tapi dia masih ragu-ragu mengenai nasib perdamaian Aceh ke depan.

Tapi ternyata setelah yang bersangkutan melihat perdamaian Aceh terus bertahan, maka timbul niatnya untuk tidak perlu lagi mempersenjatai diri secara ilegal. Akhirnya, dia serahkan AK-56 tersebut kepada Kapolres Bireuen secara sukarela dan tanpa imbalan apa pun. Menurut Kapolres, pemilik senjata mengaku selama ini dia gelisah jika sewaktu-waktu kena razia atau senjata yang disimpannya itu jatuh ke tangan orang jahat. Kini, setelah ia serahkan kepada pihak berwenang, maka ia tak perlu khawatir lagi senjata dan peluru itu jatuh ke tangan orang yang berniat jahat.

Penyerahan senjata itu, kata Kapolres, sudah dilapor langsung ke Kapolda Aceh, Irjen Adityawarman. “Kapolda Aceh mengucapkan terima kasih kepada eks kombatan itu,” ujarnya.

Menurut Saladin, Kapolda Aceh juga mengimbau seluruh masyarakat maupun para mantan kombatan GAM yang merasa masih menyimpan atau memiliki senjata api, supaya dapat mengikuti jejak “Mr X”, menyerahkan senjata dan peluru. “Coba diingat-ingat, kalau ada senjata yang masih disimpan atau ditanam pada masa konflik dulu, mohon dicari lagi dan diserahkan ke polisi. Jika tidak berani atau ragu menyerahkan langsung, silakan hubunggi polisi melalui HP dan beri tahu di mana tempatnya, supaya bisa diambil untuk diamankan,” kata Kapolres.

Menjawab Serambi berapa total senjata yang berhasil diamankan pasca-MoU Helsinki di wilayah hukum Bireuen, Kapolres menyebutkan granat empat buah, senjata pelontar jenis GLM satu pucuk, senjata serbu jenis AK-56 tiga pucuk, senjata genggam jenis revolver dan FN masing-masing satu pucuk. Sedangkan senapan angin yang menyerupai senjata AK sudah disita lima pucuk plus 53 butir peluru. (yus)

Ribuan Warga Terkurung Banjir

JEURAM - Banjir besar melanda pantai barat Aceh, meliputi Nagan Raya, Aceh Barat, dan Aceh Jaya, Minggu (17/5) kemarin. Ribuan rumah warga terendam lebih satu meter dan ribuan warga lainnya terkurung oleh banjir, setelah jembatan dan jalan ikut rusak. Tak ada korban jiwa, kecuali seorang wanita hamil dilaporkan kritis karena tersengat listrik di tengah banjir yang melanda Meulaboh, Aceh Barat.

Dari Jeuram, ibu kota Kabupaten Nagan Raya, dilaporkan akibat meluapnya Krueng Nagan, sebanyak 5.653 warga dari 15 desa di empat kecamatan dalam wilayah itu dilanda banjir. Selain itu, sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Blang Panyang-Blang Teungku, Kecamatan Seunagan Timur, putus total, sehingga ribuan warga di tiga desa dalam kawasan itu terisolir.

Saat jembatan putus pada Minggu (17/5) sekitar pukul 02.00 WIB, terdengar suara letusan seperti ledakan bom. Warga panik. Jembatan rangka baja yang menghubungkan Desa Gunong Reubo-Simpang Peuet, Kecamatan Kuala, juga terkena imbas banjir, sehingga bergeser beberapa meter dan tak dapat lagi digunakan.

Satu jembatan lainnya yang terdapat di lintasan Meulaboh-Medan, tepatnya di Desa Ujong Fatihah, Kecamatan Kuala, nyaris ambruk ke sungai karena kepada (abutment)-nya tergerus banjir. Jalur itu sempat macet beberapa jam. Untung belakangan petugas keamanan datang memberi pertolongan.

Jembatan yang nyaris ambruk itu akhirnya diperbaiki warga setempat dan dijaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Truk berbadan besar kemarin tak diperkenankan lewat beberapa saat, karena khawatir jembatan itu ambruk ke sungai. Apalagi banjir kemarin terbilang tinggi, mencapai dua meter.

Beko tenggelam
Dilaporkan juga sebuah beko ikut tenggelam di DAS Krueng Nagan, kawasan Desa Langkak, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya. Tapi belum diketahui pasti mengapa alat berat itu bisa terseret banjir. Warga khawatir beko yang hanyut itu bakal membentur dan meruntuhkan Jembatan Langkak yang selama ini ramai dilalui warga. Selain itu, serumpun besar pohon bambu sekitar pukul 11.00 WIB kemarin tumbang. Warga setempat kian panik, karena rumpun pohon tersebut nyaris memutuskan kabel listrik saat menghantam jembatan bikinan Jerman pada tahun 1981 itu.

Beberapa titik arus lalu lintas di Nagan Raya menuju Tapaktuan ikut macet, karena banjir menggenangi badan jalan antara 70 cm hingga 1 meter. Antrean panjang terlihat mencapai tiga kilometer. Sedangkan di perumahan warga, ketinggian air hampir dua meter. Kepala Dinas Sosial Nagan Raya, Drs Abdurrani, kepada Serambi tadi malam melaporkan 15 desa di empat kecamatan di Nagan ikut terendam banjir. Korbannya mencapai 5.653 orang. Ke-15 desa itu adalah Alue Gajah, Alue Siron, Cot Mueh, Ujong Sikuneng, Pulo Ie, Ujong Krueng, Neubok Yee, Kau, Lueng Keubeu Jagat, Lueng T Ben, Langkak, Kuala Tadu, Pulo, serta Padang Rubek.

“Untuk sementara sebagian bantuan telah kita salurkan, namun untuk Kecamatan Darul Makmur belum bisa kita salurkan karena terkendala oleh ruas jalan yang terendam banjir,” ungkap Abdurrani. Hingga tadi malam ribuan warga di wilayah itu masih khawatir tinggi genangan air bakal bertambah, karena hujan susulan sewaktu-waktu bisa saja terjadi, mengingat mendung masih menggantung.

Longsor
Di lintasan Jeuram-Takengon, tepatnya di kawasan Gunung Singgah Mata, menurut Abdurrani, setelah hujan berhari-hari terjadi longsor di beberapa titik. Akibatnya, arus transportasi darat terganggu. Terhadap situasi terakhir di puncak pegunungan itu, Abdurrani tak bisa memastikan kapan bisa ditangani. Hingga berita ini diturunkan tadi malam, belum ada laporan tentang korban banjir yang terpaksa ditampung di kamp pengungsian. Mereka lebih memilih berlindung di rumah sanak saudaranya di desa yang tak terkena banjir.

Aceh Barat
Banjir juga melanda Aceh Barat. Bahkan seorang ibu hamil tujuh bulan, Febrisyah (22), warga Desa Pasi Masjid, Kecamatan Johan Pahlawan, Minggu (17/5) kemarin tersengat arus listrik di tengah situasi banjir. Febri kritis dan kehamilannya terganggu, namun sudah ditangani di RSUD Cut Nyaki Dhien Meulaboh.

Seorang warga lainnya, Yanto (29), dilaporkan sakit akibat hujan dan banjir, tapi sudah ditangani tim medis. Sementara itu, tim Satgana, SAR, PMI, RAPI, Satlak, serta tim lainnya hingga sekitar pukul 23.00 WIB tadi malam terus mengevakuasi masyarakat korban banjir, mengingat ketinggian air di kawasan itu sudah mencapai 1,5 meter.

Bupati Aceh Barat, Ramli MS, didampingi Kabag Humas Setdakab, Drs Mursalin, kepada Serambi tadi malam mengatakan untuk sementara jumlah warga yang mengungsi di wilayah itu mencapai 500 jiwa. Mereka semua berasal dari Desa Pasi Masjid dan Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, dan diungsikan ke beberapa balai desa yang dianggap aman dari terjangan banjir. Namun, proses evakuasi agak terkendala karena listrik padam.

Begitupun, tim medis disertai ambulans sudah disiagakan di lokasi banjir, maupun di lokasi penampungan sementara. Menurut Ramli, bantuan untuk korban banjir hingga tadi malam telah disalurkan. Ia bahkan memerintahkan pihak berwenang untuk siaga dan mengupayakan agar korban banjir tidak panik.

Aceh Jaya
Sejumlah desa di Aceh Jaya, Minggu (17/5) juga dilanda banjir, setelah diguyur hujan lebat dua hari terakhir, sehingga air sungai meluap ke permukiman warga. Bahkan, ribuan rumah penduduk Aceh Jaya terendam. Namun, sampai kemarin belum ada warga yang mengungsi. Desa-desa yang terendam banjir itu berada di Kecamatan Sampoiniet, sehingga penduduknya tidak bisa bepergian ke mana-mana, kecuali bertahan di rumah masing-masing. Adapun desa yang terendam banjir meliputi Teuping Hasan, Masen, Babah Dua, Gampong Baro, Lamtengoh, Ujong Rimba, Gunong Cut, Pante Krueng, dan Krueng Tho.

Belum diperbaiki
Dari Lhokseumawe dilaporkan, hingga pukul 16.00 WIB kemarin Pemkab Aceh Utara belum juga memperbaiki dua jembatan yang ambruk ke sungai di Desa Meunasah Alue, Kecamatan Nisam. Bahkan, menurut geuchik dan warga, tak seorang pun unsur pejabat pemerintahan yang datang ke lokasi itu untuk melihat kondisi terakhir.

“Dari tadi padi kami di sini tidak ke mana-mana, tapi sampai sekarang ini sudah jam tiga sore nggak ada satu orang pun pejabat yang datang. Jangankan mau kasih bantuan, melihat saja tidak,” ungkap warga kepada Serambi, didampingi Geuchik Meuansah Alue, Muhammad Alamsyah.

Padahal, menurut warga, mereka sangat berharap ada pejabat yang datang melihat sendiri bagaimana sulitnya masyarakat di sana, setelah jembatan itu ambruk. “Setidaknya, bisa dibuat dulu jembatan darurat untuk sementara waktu,” kata Kaur Bidang Pembangunan Meunasah Alue, Safruddin.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua jembatan di Meunasah Alue, Kecamatan Nisam, masing-masing terletak di Dusun Alue Teungoh dan Alue Barat, Jumat (15/5) pukul 19.00 WIB, ambruk ke sungai. Akibatnya, transportasi darat dari Nisam ke Nisam Antara, Sawang, dan Banda Baro, lumpuh total. Tujuh rumah warga Alue Teungoh terancam amblas ke sungai. Selain jembatan, dua irigasi di Dusun Alue Meuh juga hancur. (edi/riz/saf)from serambinews.com

Selasa, 12 Mei 2009


BANDA ACEH - Ikatan Lembaga Mahasiswa Keperawatan Aceh (Ilmaka) meminta DPR RI secepatnya mengesahkan RUU Keperawatan, untuk dijadikan dasar hukum bagi perawat untuk menjalankan profesinya. “UU Keperawatan itu saat ini ditunggu oleh seluruh perawat di Indonesia, untuk dijadikan dasar hukum dalam menjalankan profesinya,” kata Ketua Dewan Penasehat Ilmaka, Anwar Busra pada acara peringatan Hari Keperawatan Dunia, Selasa (12/5) di Halaman Rumah Sakit Jiwa (RSJ), Banda Aceh.

Keterlambatan pengesahan RUU Keperawatan, menurut Anwar Busra, bisa menjadi ancaman bagi perawat di Indonesia. Sebab, mulai tahun 2010 tanda dimulainya perdagangan bebas antara negara ASEAN (ASEAN Free Trade Association/AFTA). Ini artinya, perawat dari negara ASEAN, sudah bisa masuk ke Indonesia untuk menjalankan profesi usahanya di negeri ini, sementara regulasi atau aturan untuk pedoman hukum bagi perawat Indonesia untuk menjalankan profesinya di negeri sendiri, sampai kini belum juga disahkan DPR RI.

Menanggapi aspirasi Ilmaka, anggota DPRA dari Partai PDI-P, Said Ichsan yang hadir dalam acara Peringatan Hari Keperawatan Dunia itu mengatakan, aspirasi Ilmaka itu patut disahuti oleh Pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh, dan DPRA untuk disampaikan kepada DPR RI. Karena, apa yang dituntut oleh Ilmaka itu tidak hanya untuk kebutuhan kalangan keperawatan di Indonesia, tapi masyarakat.

Ketua PPNI Aceh, Drs H Saifuddin AR yang menjadi inspektur upacara pada Peringatan Hari Keperawatan Dunia itu membaca pidato tertulis Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengatakan, perawat memegang peranan penting dalam dunia kesehatan, tanpa ada perawat dokter spesialis tidak bisa berbuat banyak.

Dan pengabdian 24 jam, seorang perawat yang bekerja di rumah sakit umum dan puskesmas, masyarakat patut menghormati dan menghargainya. Untuk itu, apa yang menjadi tuntutan dan aspirasi dari perawat, DPR perlu segera mewujudkannya. Misalnya mengesahkan RUU Keperawatan menjadi UU Keperawatan.

Selain itu, Saifuddin AR mengatakan, sebagai Ketua PPNI Aceh, ia menyerukan kepada pengurus dan pengelola Sekolah Keperawatan yang terdapat di Aceh dalam melaksanakan misi pendidikan keperawatannya harus memenuhi standar mutu yang jelas. Misalnya penyediaan ruang belajar yang aman, perpustakaan, dosen dan laboratorium serta alat praktek yang cukup. Usai upacara, perawat terseebut juga menggelar aksi simpatik dengan membagi-bagikan bunga kepada pengguna jalan di Simpang Lima, Banda Aceh.(her)

Minggu, 10 Mei 2009

Kejahatan Bersenjata Api Marak Lagi di Timur Aceh


KUALA SIMPANG - Belum lagi reda pembicaraan soal penculikan seorang warga keturunan Tionghoa di Kecamatan Madat, Aceh Timur--yang dibebaskan setelah membayar Rp 50 juta--tiba-tiba mencuat lagi laporan penyanderaan seorang pengusaha perkebunan di Aceh Tamiang yang juga dilakukan komplotan bersenjata api (senpi). Tampaknya, trend kejahatan bersenjata mulai marak lagi di kawasan timur Aceh.

Kasus kejahatan bersenjata di Aceh Tamiang menimpa seorang warga bernama Makmur Sembiring (51), pengusaha perkebunan kelapa sawit. Makmur dirampok dan disandera tujuh pria bersenpi menggunakan sebo, Kamis malam, 7 Mei sekitar pukul 23.00 WIB di Desa Pante Jeumpa, Kecamatan Banda Pusaka, Aceh Tamiang. Hingga kemarin polisi masih memburu pelakunya yang membawa korban ke dalam kawasan hutan Tamiang.

Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Drs Hariyanta melalui Kasat Reskrim, AKP Muliadi kepada Serambi, Sabtu (9/5) mengatakan, perampokan terhadap korban dilakukan pada malam hari saat warga sedang tertidur lelap. Nyaris tak ada warga yang mengetahui kejadian itu. Apalagi pondok (lokasi kejadian) berada di tengah kebun yang jauh dari pusat permukiman.

Menurut AKP Muliadi, sekitar pukul 23.00 WIB malam itu, korban yang tinggal dengan seorang pekerja kebun bernama Andi (35), dikejutkan dengan kedatangan tujuh tamu tak diundang. Komplotan itu menggunakan empat pucuk senjata api, satu laras pendek dan tiga senjata laras panjang diduga jenis AK-47. Mereka memakai penutup wajah (sebo).

Setelah menerobos masuk ke dalam pondok, gerombolan tersebut merampok harta benda milik korban, termasuk satu unit mobil jenis hartop warna biru BK 77. Pelaku juga sempat melepaskan tembakan sebanyak empat kali. Makmur Sembiring bersama Andi langsung dibawa ke kawasan kamp 37. Sesampai di lokasi, pelaku membebaskan Andi dan diperintahkan untuk mencari uang tebusan Rp 150 juta. Setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, Andi tiba di ibukota kecamatan. Andi melaporkan kejadian tersebut ke pos polisi terdekat, Jumat (8/5).

Berbekal laporan Andi, Kapolres Aceh Tamiang langsung mengerahkan personelnya untuk memburu perampok ke kamp 37. Namun di lokasi, polisi hanya menemukan satu unit mobil hartop dan satu butir selongsong peluru jenis AK-47. Sedangkan pelaku bersama sanderanya diduga dibawa lari ke dalam kawasan hutan Aceh Tamiang. “Ketujuh pelakunya sudah teridentifikasi dan kita akan terus memburu mereka,” kata Kasat Reskrim Polres Aceh Tamiang.

Alex dibebaskan
Setelah disekap selama tiga hari empat malam di hutan, akhirnya Misbahuddin (46) alias alex, dibebaskan oleh komplotan bersenpi, Sabtu (9/5) sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Pria asal Desa Paya Naden, Kecamatan Madat, Aceh Timur, itu dibebaskan di Desa Pelalu, Kecamatan Simpang Ulim, setelah pihak keluarga menebus Rp 50 juta. Lelaki WNI turunan Tionghoa yang sehari-hari menekuni profesi tabib tersebut diculik tiga pria bersebo memakai dua senjata laras panjang, Selasa (5/5), sekitar pukul 21.15 WIB di rumah ibu kandungnya, Miranti (90), Desa Tanjong Minje, Kecamatan Madat.

Informasi yang diterima Serambi dari keluarga Alex menyebutkan, sekira pukul 21.00 WIB, Jumat malam (8/5), salah seorang keluarga Alex mengantar uang Rp 50 juta ke Kawasan pesisir Kecamatan Tanah Jambo Aye untuk komplotan tersebut. Uang Rp 50 juta itu merupakan hasil negosiasi keluarga korban dengan komplotan penculik. Karena sebelumnya komplotan tersebut mematok angka Rp 500 juta. Berselang lima jam kemudian, atau persis pukul 02.00 WIB dini hari, Alex dilepas di kawasan Bata Puteh, Desa Pelalu, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur.

“Setelah berjalan kaki dengan mata tertutup dari hutan, kemudian saya diantar oleh komplotan itu dengan sepeda motor ke kawasan Bata Puteh. Sebelum komplotan itu pergi, mereka berpesan agar saya jangan pulang dulu sebelum matahari terbit. Saya pun merebahkan badan di sebuah gubuk,” cerita Alex di Mapolsek Madat.

Alex menambahkan, ketika dirinya hendak berangkat pulang, secara kebetulan lewat mobil angkutan umum yang disopiri kerabat istrinya. Ia pun diantar ke rumah. Selanjutnya, sekitar pukul 10.30 WIB, Sabtu (9/5), Alex dijemput polisi Madat untuk dimintai keterangan. Menurut cerita Alex, selama dirinya disekap, ia tidur bersama komplotan tersebut di hutan tanpa ada tempat berteduh.

Kapolres Aceh timur, AKBP Ridawan Usman didampingi Kapolsek Madat, Aiptu HM Jamil MA SSos kepada Serambi mengatakan, sebelumnya pihak kepolisian sudah mengulur-ulur waktu untuk pemberian tebusan kepada komplotan tersebut, dengan harapan mereka bisa diringkus. Namun karena pihak keluarga panik, sehingga tanpa sepengetahuan polisi telah memberikan uang sebagai tebusan. “Kendati Alex telah bebas dengan tebusan, polisi tetap memburu pelakunya,” tegas Kapolres Aceh Timur.(md/yuh/c37)
from serambinews.com

Jumat, 08 Mei 2009

Bank Dunia Terkesan pada Kemajuan Aceh


BANDA ACEH - Wakil Presiden Bank Dunia (World Bank) untuk Regional Asia Pasifik, James W Adams, menyatakan sangat terkesan pada kemajuan pembangunan di Aceh yang dinilainya menuju ke arah positif. “Bank Dunia telah membuat investasi yang luar biasa di Aceh. Semua orang telah bekerja keras di Aceh untuk membuat perbedaan seperti sekarang ini. Saya pikir, Anda telah membawa Aceh ke arah yang positif,” ujar James W Adams kepada Gubernur Irwandi Yusuf di ruang kerja Gubernur Aceh, Kamis (7/5).

Menurut James, kemajuan positif yang tercipta di Aceh telah meningkatkan harapan pihaknya untuk terus melanjutkan kerja sama membangun Aceh ke arah yang lebih baik lagi. “Mungkin 10-20 tahun yang lalu, kami ragu membantu Aceh dikarenakan konflik yang berlangsung di sini. Tapi setelah tsunami kini situasinya sungguh berbeda. Kami sangat senang bila dapat membantu Anda untuk selanjutnya,” ungkap James lagi-lagi kepada Irwandi, seperti dilansir siaran pers yang dikirim Koordinator Tim Asistensi Gubernur Aceh Bidang Komunikasi, Alfian Kandang kepada Serambi.

Wapres Bank Dunia juga menyampaikan bahwa apa yang diperoleh oleh Aceh saat ini memang belum cukup. Ia mengharapkan agar Pemerintah Aceh dapat menyampaikan program-program yang akan dilakukan Pemerintah Aceh ke depannya, sehingga dapat dibantu dengan dukungan dana Multidonor Fund (MDF) selanjutnya. Pertemuan Gubernur Irwandi Yusuf dengan Wapres Bank Dunia itu berlangsung sekitar 20 menit di ruang rapat Kantor Gubernur Aceh. Dalam pertemuan itu, kedua belah pihak membicarakan kelanjutan bantuan yang diberikan Bank Dunia untuk pembangunan Aceh. Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Joachim von Amsberg serta Ketua Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA), Ir Iskandar MSc.

Dalam pertemuan itu Gubernur Aceh menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bank Dunia atas bantuan-bantuan yang telah diberikan selama ini kepada rakyat dan Pemerintah Aceh. Gubernur juga menyampaikan bahwa bantuan MDF yang disalurkan melalui World Bank tersebut telah membantu memulihkan kondisi Aceh yang rusak parah akibat gempa dan tsunami.

Menurutnya, bantuan Bank Dunia tersebut telah memudahkan pemerintahannya membawa Aceh dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. “Gubernur mengharapkan agar dalam bantuan MDF yang disalurkan melalui World Bank selanjutnya juga dapat mencakup infrastruktur, pembangunan ekonomi, bantuan teknis dan dukungan untuk blueprint masterplan percepatan pembangunan Aceh ke depan, serta Program Aceh Hijau (Aceh Green) untuk memudahkan pemerintah dalam membawa Aceh ke arah yang lebih baik dari sekarang,” tulis Alfian dalam siaran pers itu.

Disebutkan juga bahwa dalam pertemuan itu Irwandi menekankan bahwa visi Aceh Hijau yang dijalankannya sekarang telah berhasil menghentikan lima konsesi hak pengusahaan hutan (HPH) besar dari pemerintahan sebelumnya, di mana lebih dari 500.000 hektar hutan Aceh telah dapat diselamatkan dari ancaman pengrusakan. Bantuan MDF tahap pertama yang disalurkan Bank Dunia untuk Aceh akan berakhir pada tahun 2012 dan mencakup lima sektor utama, yaitu infrastruktur, community development, lingkungan, pembangunan ekonomi, serta capacity building. Sementara dukungan untuk bantuan MDF tahap selanjutnya sedang menjadi bahan diskusi antara Pemerintah Indonesia dengan Bank Dunia. (na)
from serambinews.com

Rabu, 06 Mei 2009

Pameran Teknologi Digelar

LHOKSUKON - Pameran Pekan Raya Teknologi Tepat Guna (PPTTG), pada 18-20 April digelar di Lapangan Upacara Lhoksukon, Aceh Utara. Pameran itu merupakan serangkaian kegiatan yang diprakarsai Jingki Institute, Jaringan Komunikasi Masyarakat Adat (JKMA) Pase dan Sepakat. Ketua pelaksana, Juni Prananta kepada Serambi, kemarin, mengatakan, kegiatan itu bertujuan memperkenalkan kepada masyarakat tentang alat-alat tradisional yang digunakan petani, dan hasil penemuan tiga lembaga tersebut. Ditambahkan, masyarakat menyambut baik acara itu. Buktinya, warga sangat antusias mengunjungi arena pameran yang menampilkan berbagai alat tradisional.

Beberapa alat yang dipamerkan, seperti asap cair (alat pengawet makan yang tidak berisiko), biket (arang dari tempurung kelapa), alat biogas, dan berbagai macam pupuk organik padat dan cair yang tak mempunyai efek terhadap lingkungan. Selain itu juga ada alat-alat tradisional seperti jingki (alat pengupas padi), creuh dan langai (alat pembajak sawah), dan peunerah (alat pengambil minyak kelapa).

“Alat tersebut kini mulai jarang dikenal masyarakat seiring berkembangnya teknologi. Bahkan, alat-alat itu mulai hilang. Sehingga banyak yang tidak mengetahuinya,” ujar Juni berharap masyarakat kembali menggunakan alat-alat tradisional tersebut dalam berbagai aktivitasnya.

from serambinews.com

Senin, 04 Mei 2009

Media Komunikasi Pemerintah Aceh Diluncurkan

BANDA ACEH - Biro Hukum dan Humas Setda Aceh, Kamis (23/4), meluncurkan sejumlah produk media komunikasi Pemerintah Aceh di Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Peluncuran media komunikasi itu dilakukan Gubernur Aceh yang diwakili Asisten I Setda Aceh, Drs Marthin Desky MM. Media yang diluncurkan itu adalah majalah Berita Aceh, website bagian hubungan masyarakat (www.humasaceh.info), website jaringan informasi dan dokumentasi hukum (www.infohukum.nad.go.id), sms reg Aceh 6768, kumpulan press release, kaleidoskop kegiatan gubernur, wakil gubernur, sekda aceh tahun 2008, kumpulan pidato gubernur, wakil gubernur dan sekretaris daerah, baliho, billboard, TV wall, dan video profil Aceh 2008.

Dalam sambutannya, Marthin berharap kehadiran media komunikasi itu akan terjalin komunikasi yang lebih baik, efektif, dan harmonis antara pemerintah dan rakyat. Selain itu, kata Marthin lagi, media komunikasi tersebut dapat menginformasikan semua kerja pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Aceh beserta jajarannya selama ini kepada masyarakat.

“Dengan adanya media ini, masyarakat juga dapat memberikan feed back, berupa pertanyaan, saran bahkan juga kritik yang bersifat konstruktif, sehingga jalannya roda pemerintahan akan semakin lancar dengan dukungan dan partisipasi dari rakyat,” jelasnya seraya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mengusahakan media komunikasi Pemerintah Aceh ini. Sementara itu, Ketua panitia, A Hamid Zein, mengatakan, peluncuran media komunikasi ini dimaksudkan untuk membangun kehumasan berbasis teknologi informasi yang mempunyai kesamaan pemahaman tentang visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi, dan rencana tindak kehumasan, agar fungsi publik relation Pemerintah Aceh dapat berjalan dengan baik.

Ditambahkan, pada kesempatan itu Pmerintah Aceh melalui biro hukum dan humas bekerjasama dengan PT Koin Indomedia Pratama memberikan beasiswa kepada 10 siswa berprestasi masing-masing sebesar Rp 250 ribu selama satu tahun. “Semua dana tersebut didapatkan dari hasil iklan sponsor di media yang diterbitkan oleh biro hukum dan humas,” ungkapnya Secara terpisah, Kabag Humas Pemerintah Aceh, Nurdin F Joes, kepada Serambi mengatakan, peluncuran sejumlah media komunikasi tersebut merupakan bentuk kepercayaan yang diberikan Pemerintah Aceh kepada Biro Hukum dan Humas untuk melaksanakan berbagai tugas yang berhubungan dengan kehumasan.(jal)

Copyright © 2009 Serambinews

Amazon Affiliate

SItus Iklan Gratis Untuk Anda